Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ENERGI RAJAB MENEMBUS KORIDOR BERKAH

 





Wahyudin.NS.Mualaf Literasi

Sangat terasa, saat 1 Rajab 1445 Hijriyah tiba. Umat Islam bergerak dengan niat meningkatkan kualitas ibadah. Energi Rajab menghunjam relung hati, pikiran, menguatkan umat Islam yang nota bene sebagai abdan syakuro. Hamba Allah yang bersyukur atas segala nikmat sebagai karunia Allah, benar menyadari hakikat kehidupan agar terus bermakna. Komunitas ema-ema di Majlis Ta’lim menggaungkan: “Rajab telah tiba, bulan penuh berkah datang.” Para Bapak dan Ayah menguatkan kebersamaan dengan shalat berjemaah di masjid atau musholla, seakan Rajab sebagai pintu gerbang mengawal bulan Sya’ban dan siap menapaki hidup di bulan Ramadan. Untaian doa selalu didengungkan secara individu dan kolektif: “Ya Allah, berkahilah dinamika hidup kami di bulan Ramadan, menuju Sya’ban dan sampaikan jejak kehidupan kami  pada bulan Ramadan”.

Sangatlah indah, bagi kita umat Islam semuanya menjadi kebaikan. Secara totalitas segala ucapan, aktivitas saat dimotivasi lillaahi ta’aala akan dinilai Ibadah. Bulan Rajab momentum menguatkan kualitas ibadah, diawali dengan puasa sunnah Rajab. Secara universal ada beberapa catatan penting hidup di bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadan akan menguatkan energi ibadah:

Pertama, menguatkan rasa syukur kepada pemilik jagat raya. Bahwa semua kepemilikan manusia, jasmani rohani, harta sawah dan ladang, nikmat sebagai pemimpin dari memimpin warga hingga sebagai Kepala Negara, bahkan jiwa raga sepenuhnya ada dalam genggaman Allah SWT. Kondisi seperti ini menyadarkan manusia, bahwa manusi lemah tak berdaya tanpa diberi kekuatan Rabbul Izzati. Manusia tak berkuasa tanpa kekuatan Allah, Laa haula Walaa Quwwata Illaa Billaahil Aliyyil Aziiim.

Kedua, manusia kian menyadari bawa akselerasi waktu terus bergulir. Waktu yang lalu tinggallah kenangan, waktu sekarang mungkin bisa dinikmati, waktu yang akan datang tiada yang dapat memprediksi apakah kita masih menikmatinya? Orang Arab mengatakan: Alwaqtu Kassyaif, waktu laksana pedang. Orang Inggris berujar: time is money, waktu adalah uang. Betapa sangat berharganya waktu sehingga Allah mengingatkan: “Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-Asr [103]: 1-3)

Imam Al-Ghazali berpesan: “Hendaknya engkau memakmurkan waktumu untuk kegiatan ibadahmu, hingga tidak berlalu waktu malam dan siang kecuali engkau menjadikannya untuk aktiviytas kebaikan, serta menghabiskan waku untuk ibadah”. Lebih tegas lagi beliau mengungkapkan: “waktumu adalah kehidupanmu dan laksana es, terus mencair. Karenanya, janganlah waktumu terbuang percuma”. Betapa pentingnya eksistensi waktu, sehingga banyak orang mengatakan: Orang sukses itu selalu mengisi waktunya untuk berkarya, berliterasi membangun peradaban, karsanya menjadi legacy untuk generasi akan datang, dan mengisi ruang ibadah mahdhoh dan ghoir mahdhoh hingga kita tidak diberi waktu saat kita kembali menghadap ke Rabbul Izzati. Waktu hidup di dunia akan berakhir, sedangkan hidup di akhirat kekal abadi selamanya.

Ketiga, bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadan menjadi momentum penting proses penyadaran spiritual. Bahwa manusia bukan hanya mencari dan mengoleksi materiil tapi yang jauh lebih penting mendeposito amaliah untuk hidup di alam transendental nanti. Suatu saat, segala perilaku manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Sehingga tiga bulan haram ini, menjadi titik kulminasi untuk muhasabah, mendekat kepada Allah, mengisi ruang kehidupan dengan ibadah. Bahkan saat bulan Rajab, kita terus berdoa agar kita hidup di bulan Sya’ban dan menikmati bulan Ramadan. Pesan penuh energi bagi umat Islam: “Siapa orang yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadan, Allah SWT mengharamkan jasdanya masuk neraka”. Dikuatkan Nurcholis Madjid (2013, h. 132) mengungkapkan, efek percaya kepada Allah akan mengantarkan efek dua manfaat: satu pihak memberi pegangan hidup yang kuat, dan di lain pihak membebaskan manusia dari belenggu mitologi sesama manusia dan alam.

Masya Allah, energi kekuatan Rajab menjadi momentum penyadaran diri kita bahwa kehidupan ada dalam kekuasaan Allah SWT. Energi Rajab menembus bulan Sya’ban dan bulan Ramadan sehingga kehidupan umat Islam selalu memandang masa depan lebih baik, lebih bermanfaat untuk umat. Allah SWT mengingatkan:”Wahai orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hai esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sesunggunya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyar [ 5]: 18).

Kalenderawak, 02 Rajab 1445 H / 14 Januari 2024 Pasca Subuh Pkl. 04.50 Wib.

Mualaf Literasi mulai ngisi Web.site lagi.com.moga.manfaat.untuk.umat.

 

Posting Komentar untuk "ENERGI RAJAB MENEMBUS KORIDOR BERKAH"